Vulkanologi
TUGAS
VULKANOLOGI
OLEH
MUH. AL QAYYUUM PADMON
471 414 028
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI
JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
GORONTALO
2017
1.
Gunung
Api Dan Tektonik Lempeng
Kerak bumi
terdiri dari lempengan-lempengan, ada lempengan benua besar dan ada lempengan
benua kecil. Diantara lempengan-lempengan itu terdapat retakan-retakan besar di
kerak bumi. Lempengan-lempengan itu bergerak perlahan-lahan ke arah permukaan
bumi. Di beberapa tempat lempengan-lempengan itu bergerak saling menjauh dan di
beberapa tempat lainnya lempengan-lempengan tersebut bergerak saling mendekat
dan bertabrakan. Lempengan-lempengan yang saling menjauh akan menyebabkan
melebarnya dasar samudra, sedangkan lempengan-lempengan yang saling bertabrakan
akan membentuk pegunungan.
Ketika lempengan India-Australia bertabrakan dengan lempengan Eurasia, lempengan tersebut longsor jatuh ke dalam bumi di bawah Indonesia. Suhu yang tinggi melelehkan pinggiran lempengan sehingga menghasilkan magma. Di banyak tempat, magma itu kemudian muncul ke permukaan bumi dan membentuk gunung-gunung api. Pada saat lempengan menurun melalui parit samudra maka lempengan benua tersebut mengeluarkan tekanan yang mengakibatkan di kawasan ini sering terjadi gempa.
Ketika lempengan India-Australia bertabrakan dengan lempengan Eurasia, lempengan tersebut longsor jatuh ke dalam bumi di bawah Indonesia. Suhu yang tinggi melelehkan pinggiran lempengan sehingga menghasilkan magma. Di banyak tempat, magma itu kemudian muncul ke permukaan bumi dan membentuk gunung-gunung api. Pada saat lempengan menurun melalui parit samudra maka lempengan benua tersebut mengeluarkan tekanan yang mengakibatkan di kawasan ini sering terjadi gempa.
1. Teori
Lempeng Tektonik (Tectonic Plate Theory)
Teori Lempeng Tektonik dikemukakan oleh Tozo
Wilson. Berdasarkan Teori Lempeng Tektonik, kulit bumi terdiri atas beberapa
lempeng tektonik yang berada di atas lapisan astenosfer yang berwujud cair
kental. Lempeng-lempeng tektonik pembentuk kulit bumi selalu bergerak karena
adanya pengaruh arus konveksi yang terjadi pada lapisan astenosfer dengan
posisi berada di bawah lempeng tektonik kulit bumi. Teori lempeng tektonik
muncul setelah Alfred Lothar Wagener, seorang ahli meteorologi dan geologi dari
Jerman dalam buku The Origin of Continents an Oceans (1915),
mengemukakan bahwa benua yang padat sebenarnya terapung dan bergerak di
atas massa yang relatif lembek (continental drift). Selain itu,
berdasarkan hasil pengamatannya beberapa bagian benua terdapat kesamaan bentuk
pantai antara benua satu dengan lainnya. Ia juga mendapati kesamaan geologi dan
kesamaan makhluk yang hidup di pantai seberang. Inti dari teori
lempeng tektonik adalah kerak Bumi sebetulnya terdiri atas lempengan-lempengan
besar yang seolah mengapung dan bergerak pada lapisan inti Bumi yang lebih
cair. Teori ini dibuktikan oleh pakar-pakar geologi dengan waktu hampir
setengah abad dan diterima sejak tahun 1960-an. Hingga kini teori ini telah
berhasil menjelaskan berbagai peristiwa geologis, seperti gempa bumi, tsunami,
dan meletusnya gunung berapi, serta bagaimana terbentuknya gunung, benua, dan
samudra. Teori ini juga membuktikan bahwa benua-benua selalu bergeser.
Berdasarkan arahnya, gerakan lempeng-lempeng tektonik dapat dibedakan
menjadi tiga jenis, yaitu sebagai berikut:
a) Konvergen
Konvergen yaitu gerakan
saling bertumbukan antarlempeng tektonik. Tumbukan antarlempeng tektonik
dapat berupa tumbukan antara lempeng benua dan benua, atau antara lempeng benua
dan lempeng dasar samudra. Pada bidang batas
pertemuan akan terjadi palung laut atau lipatan. Zona atau tempat terjadinya tumbukan antara
lempeng tektonik benua dan benua disebut zona konvergen. Contohnya
tumbukan antara lempeng India dan lempeng benua Eurasia yang menghasilkan
terbentuknya pegunungan lipatan muda Himalaya dan merupakan pegunungan
tertinggi di dunia dengan puncak tertingginya, Mount Everest. Contoh lainnya,
tumbukan lempeng Italia dengan Eropa yang menghasilkan terbentuknya jalur
Pegunungan Alpen. Zona berupa jalur tumbukan antara lempeng benua dan lempeng dasar
samudra, disebut zona subduksi (subduction zone), contohnya,
tumbukan antara lempeng benua Amerika dan lempeng dasar Samudra Pasifik yang
menghasilkan terbentuknya Pegunungan Rocky dan Andes. Di wilayah ini umumnya rawan terhadap gempa bumi dan banyak ditemui
gunung api
b) Divergen
Divergen yaitu gerakan saling menjauh
antarlempeng tektonik, contohnya gerakan saling menjauh antara lempeng Afrika
dan Amerika bagian selatan. Zona berupa jalur tempat berpisahnya
lempeng-lempeng tektonik disebut zona divergen (zona sebar pisah). Lempeng bergerak saling menjauh ( berlawanan ). Pada batas pergerakan akan terbentuk kerak bumi yang baru karena naiknya
materi dari lapisan mantel ( magma ) ke permukaan bumi
dan membeku sehingga membentuk punggung laut.
c) Sesar Mendatar (Transform),
Transform yaitu gerakan saling bergesekan
(berlawanan arah) antarlempeng tektonik. Contohnya gesekan antara
lempeng Samudra Pasifik dan lempeng daratan Amerika Utara yang
mengakibatkan terbentuknya Sesar San Andreas yang membentang
sepanjang kurang lebih 1.200 km dari San Francisco di utara sampai
Los Angeles di selatan Amerika Serikat. Zona berupa jalur tempat
bergesekan lempeng-lempeng tektonik disebut Zona Sesar Mendatar (zona
transform). Terjadi pergeseran dua lempeng dengan arah yang
berlawanan. Pergersaran tidak menimbulkan penghilang atau
pemunculan kerak bumi, tetapi akan terjadi patahan ( sesar ). Gerakan ini akan menimbulkan terjadi gempa tektonik
2. Persebaran Gunung Api
Gunung berapi
atau gunung api secara umum
adalah istilah yang dapat didefinisikan sebagai suatu sistem saluran fluida panas (batuan dalam wujud cair atau lava) yang memanjang dari kedalaman sekitar 10 km di bawah permukaan
bumi sampai ke permukaan bumi, termasuk
endapan hasil akumulasi material yang dikeluarkan pada saat meletus.
Dalam aktivitas gerak lempeng tektonik, pada tepian lempeng
tersebut umumnya muncul aktivitas vulkanisme dan gempa bumi. Benarkah dan
bagaimana itu bisa terjadi? dari lempeng-lempeng yang bergerak adalah merupakan
rangkaian gunung api atau juga terdapat titik-titik pusat gempa. Pola dan
sebaran gunungapi serta gempa bumi tersebut tentunya tidak terlepas dari
keterkaitannya dengan proses alam lainnya, yaitu akibat gerak mendatar
lempeng-lempeng, baik secara tumbukan (konvergen), divergen, maupun berpapasan.
Saat ini gunung api yang aktif di dunia berjumlah 500 sampai
600 buah yang tersebar di tiga tempat utama, yaitu sebagai berikut:
a.
Di sekitar Samudera Pasifik (sekitar
62%) dengan rincian sekitar 45% tersebar dikepulauan Pasifik Bagian Barat dan
17% di daerah pinggiran Pasifik Utara dan Pasifik Selatan.
b
Di Indonesia (14%). Terletak
memanjang membentuk jalur pengunungan aktif sepanjang 7.000 - 7.500 km dan
lebar 50 - 200 km, mulai dari Aceh di ujung barat hingga Halmahera di ujung
timurnya.
c.
Sisanya tersebar di busur kepulauan
dan pinggiran Amerika di Pasifik. Sekitar 3% terletak di Pasifik Tengah (Hawaii
dan Samoa), 1% terdapat di pulau-pulau di Samudera Hindia, 13% di Atlantik
(Azores, Cape Verde Island, Kanada, dan Medeira yang merupakan gunungapi bawah
laut), dan 7% tersebar di Mediteran dan Asia Kecil Utara. Sekitar 4%-nya
terletak di tengah benua dan dikenal sebagai African Rift System.
2.
Struktur
dan Bentuk Gunung api
Bentuk dari suatu gunung api itu
bermacam-macam, yaitu :
1.Bentuk
kerucut
Tersusun dari batuan hasil letusan
gunungapi yang menumpuk dan sumber letusannya biasanya tidak berpindah (tetap)
![]() |
|
Bentuk kerucut
|
2. Bentuk
kubah
Tersusun dari batuan aliaran lava
yang menumpuk karena masih agak cair bentuknya menyerupai kubah
![]() |
|
Bentuk kubah
|
3. Bentuk
campuran (stratovulkano)
Tersusun dari batuan hasil letusan
dengan tipe letusan berubah-ubah sehingga dapat menghasilakn susunan yang
berlapis-lapis dari beberapa letusan ada yang sudah beberapa kali
![]() |
|
Bentuk campuran (stratovulkano)
|
4. Bentuk
perisai
Tersusun dari batuan aliran lava
yang pada saat diendapkan masihh cair, sehingga tidak sempat membentuk suatu
kerucut yang tinggi
![]() |
|
Bentuk perisai
|
5. Bentuk
maar
Bentuk maar adalah bentuk dari kawah
yang dihasilkan dari suatu letusan yang kuat akibat letusan freatik, yaitu
letusan yang disebabkan oleh uap dan gas sehingga terjadi letusan dari uap dan
gas tadi yang cukup kuat membentuk suatu lubang kawah
![]() |
|
Bentuk maar
|
6. Bentuk
kaldera
Adalah bentuk kawah yang sangat
besar terjadi akibat letusan yang sangat besar, biasanya dengan volume hasil
letusan sangat besar sehingga membentuk suatu lubang raksasa dengan diameter
diatas 2 km bahkan dapat mencapai puluhan kilometer
![]() |
|
Bentuk kaldera
|
3.
Komposisi
Magma
Magma adalah
cairan atau larutan silikat pijar yang terbentuk secara alamiah bersifat
mobile, bersuhu antara 900 ° - 1200 °C atau lebih dan berasal dai kerak bumi
bagian bawah atau selubung bumi bagian atas ( F.F. Grouts, 1947; Tumer
dan verhogen 1960, H. Williams, 1962 ).
Komposisi kimiawi magma dari contoh-contoh batuan beku terdiri dari :
Komposisi kimiawi magma dari contoh-contoh batuan beku terdiri dari :
- Senyawa-senyawa yang bersifat non volatile dan merupakan senyawa oksida dalam magma. Jumlahnya sekitar 99% dari seluruh isi magma , sehingga merupakan mayor element, terdiri dari SiO2, Al2O3, Fe2O3, FeO, MnO, CaO, Na2O, K2O, TiO2, P2O5.
- Senyawa volatil yang banyak pengaruhnya terhadap magma, terdiri dari fraksi-fraksi gas CH4, CO2, HCl, H2S, SO2 dsb.
- Unsur-unsur lain yang disebut unsur jejak (trace element) dan merupakan minor element seperti Rb, Ba, Sr, Ni, Li, Cr, S dan Pb.
4.
Produksi
dan mekanisme pelelehan magma
Magma sebagai salah satu kandungan
yang ada di dalam Bumi ini tidak muncul dengan sendirinya dengan begitu saja.
Magma ini bisa terbentuk karena adanya proses yang berlangsung di dalam Bumi,
seperti halnya guyot yang mengalami proses terbentuknya guyot. Pembentukan magma ini tidak lepas dari litosfer yang
merupakan suatu jenis lempeng Bumi. Proses pembentukan magma ii melibatkan dua
lempeng litosfer yang saling berinteraksi satu dengan yang lainnya.
Magma ini merupakan sesuatu yang
terbentuk sebagai akibat dari peristiwa pembenturan antara dua lempeng
litosfer. Salah satu lempeng yang berbenturan tersebut menunjam dan menyungsup
ke dalam astenosfer. Kedua lempeng litosfer yang saling berinteraksi tersebut
kemudian mengalami pergesekan. Karena adanya pergesekan ini maka akan
meningkatkan suhu dan juga tekanan di antara dua lempeng litosfer yang saling
berinteraksi tersebut. Peningkatan suhu dan tekanan tersebut akan
ditambah dengan adanya air yang berasal dari sedimen- sedimen samudera, dan hal
ini akan diikuti oleh proses peleburan sebagian dari lapisan litosfer tersebut,
dan terbentuklan magma.
Itulah secara umum gambaran terjadinya magma. Agar lebih
jelas memahami proses terjadinya magma, proses pembentukan magma tersebut dapat
dituliskan ke dalam poin- poin sebagai berikut:- Dua lempeng Bumi (lempeng litosfer) mengalami peristiwa pembenturan.
- Salah satu dari kedua lempeng tersebut menunjam dan menyungsup ke dalam astenosfer.
- Kedua lempeng litosfer tersebut mengalami pergesekan.
- Pergesekan tersebut meningkatkan suhu dan juga tekanan di antara kedua lempeng tersebut.
- Suhu dan tekanan yang tinggi ini akan disertai air yang berasal dari sedimen dan diikuti oleh peleburan bagian dari litosfer. Hal inilah yang dinamakan magma.
5.
Migrasi
magma
Pada bahasan kali ini saya akan
membahas tentang bagaimana dan faktor apa saja yang mempengaruhi magma dapat
bergerak dari sumber menuju ke permukaan. Ada 2 sebab yang membuat magma bisa
bergerak yang pertama disebabkan oleh arus konveksi yang terjadi didalam mantel
berlangsung dengan pelan dalam volume yang cukup besar dan yang kedua bergerak
melalui rekahan – rekahan batuan yang cukup
besar. 2 jenis pergerakan magma tersebut dapat berupa diapire dan dike.suhu
serta densitas akan membantu mengontrol lokasi dimana diapire dan dike memberi
kemungkinan paling besar untuk mendominasi pergerakan magma. Selain itu
densitas juga menentukan kisaran kedalaman dimana magma terakumulasi dalam
suatu reservoir sebelum akhirnya keluar ke permukaan
6.
Magma
storage
Magma dari mantel yang terdorong ke atas akan menemui
dua kemungkinan, yang pertama langsung mencapai permukaan bumi atau terhenti di
kerak untuk beberapa saat sebelum akhirnya tererupsi, dengan kata lain magma
‘tersimpan’ terlebih dahulu di kerak. Penyimpanan magma di kerak bumi ini
dikenal juga dengan istilah magma storage.Magma storage dapat terjadi secara
permanen, di mana magma berhenti di kerak bumi lalu mendingin membentuk tubuh
intrusi tanpa sempat mencapai permukaan.Magma storage dapat juga terjadi secara
temporer.Di bawah ini tiga hal yang dipengaruhi magma storage:
1.
komposisi magma,
2. sifat
fisik magma (misal viskositas),
3. ukuran dan frekuensi erupsi.
7.
Volatile
dan gelembung
Vesiculation adalah
proses dimana magma yang mengandung komponen seperti CO2, SO2, S2, Cl2, dan H2O
sewaktu naik kepermukaan membentuk gelembung-gelembung gas dan membawa serta
komponen volatile Sodium (Na) dan Potasium(K).
8.
Material
hasil erupsi
Bahan-bahan hasil erupsi dapat berupa sebagai berikut:
1. Benda cair, terdiri atas sebagai berikut:
a. Lava adalah magma yang telah meleleh di sekitar kepundan.
b. Lahar adalah lelehan lumpur panas yang berasal dari magma bercampur dengan air.
c. Lahar hujan adalah aliran lumpur yang terjadi dari bahan eflata yang bercampur dengan air hujan dan dihanyutkan di lereng gunung.
2. Benda padat (eflata), berdasarkan ukurannya dibedakan menjadi bom, lapili, kerikil vulkanik, dan abu vulkanik.
3. Benda berbentuk gas, seperti gas asam arang (CO2), gas belerang (H2S), zat lemas (N2), dan uap air (H2O).
Berdasarkan kekuatannya erupsi dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
1. erupsi efusif, adalah erupsi berkekuatan lemah yang ditandai adanya lelehan lava di permukaan bumi.
2. erupsi eksplosif, adalah erupsi berkekuatan dahsyat yang ditandai adanya semburan butiran-butiran padat (eflata) yang berasal dari magma dan batuan padat di sekitar diatrema.
1. Benda cair, terdiri atas sebagai berikut:
a. Lava adalah magma yang telah meleleh di sekitar kepundan.
b. Lahar adalah lelehan lumpur panas yang berasal dari magma bercampur dengan air.
c. Lahar hujan adalah aliran lumpur yang terjadi dari bahan eflata yang bercampur dengan air hujan dan dihanyutkan di lereng gunung.
2. Benda padat (eflata), berdasarkan ukurannya dibedakan menjadi bom, lapili, kerikil vulkanik, dan abu vulkanik.
3. Benda berbentuk gas, seperti gas asam arang (CO2), gas belerang (H2S), zat lemas (N2), dan uap air (H2O).
Berdasarkan kekuatannya erupsi dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
1. erupsi efusif, adalah erupsi berkekuatan lemah yang ditandai adanya lelehan lava di permukaan bumi.
2. erupsi eksplosif, adalah erupsi berkekuatan dahsyat yang ditandai adanya semburan butiran-butiran padat (eflata) yang berasal dari magma dan batuan padat di sekitar diatrema.
9.
Tipe
erupsi
1. Tipe Hawaiian. Letusan tipe ini menyebarkan lava ke segala
arah. Skala letusannya tidak besar, namun terus terjadi secara konsisten.
Disebut “hawaiian” karena sering terjadi pada gunung-gunung berapi di daerah
Hawaii.
2. Tipe Stromboli. Letusan jenis ini secara konstan terus
berlangsung meskipun hanya berupa ledakan-ledakan kecil. Dalam skala waktu
tertentu biasanya gunung akan mengeluarkan benda padat berupa batu atau abu
vulkanik.
3. Tipe Vulkano (vulcano). Letusan jenis ini merupakan yang
paling umum terjadi. Skala letusannyaa berdasarkan tingkat tekanan. Gunung yang
meletus dengan tipe letusan ini biasanya menyebabkan kerusakan lingkungan yang
parah, apalagi jika tekanan dari dalam bumi besar.
4. Tipe Merapi. Tipe letusan ini merupakan salah satu yang
tidak kalah mengerikannya dibandingkan dengan tipe vulkano. Letusannya memecah
sumbatan lava karena tekanan yang sangat besar dan mengeluarkan lahar serta
awan panas (wedhus gembel).
5. Tipe Perret (plinian). Letusan jenis ini sangat berbahaya. Letusan ini akan mengeluarkan gas yang membumbung tinggi dan membentuk semacam bunga kol pada ujungnya. Sakla letusannya sangat besar, bahkan menyebabkan dinding kawah merosot dan menyebabkan terbentuknya kaldera. Contoh letusan tipe ini adalah gunung Krakatau pada tahun 1883 yang menghancurkan sebagian besar pulaunya.
5. Tipe Perret (plinian). Letusan jenis ini sangat berbahaya. Letusan ini akan mengeluarkan gas yang membumbung tinggi dan membentuk semacam bunga kol pada ujungnya. Sakla letusannya sangat besar, bahkan menyebabkan dinding kawah merosot dan menyebabkan terbentuknya kaldera. Contoh letusan tipe ini adalah gunung Krakatau pada tahun 1883 yang menghancurkan sebagian besar pulaunya.
6. Tipe Sint Vincent. Dinamakan seperti ini karena pernah
terjadi pada gunung sint vincent pada tahun 1902. Letusan tipe ini akan
menyebabkan daerah sekitar terkena lahar panas karena lelehan lava bercampur
dengan air danau kawah dan tumpah bersamaan. Di Indonesia pernah terjadi pada
Gunung Kelud tahun 1919.
7. Tipe Pelee. Letusan tipe ini biasa terjadi jika terdapat
penyumbatan kawah di puncak gunung api yang bentuknya seperti jarum, sehingga
menyebabkan tekanan gas menjadi bertambah besar. Apabila penyumbatan kawah
tidak kuat, gunung tersebut meletus.
10. Magnitudo erupsi
Rincian aktivitas vulkanik masa lalu
direkonstruksi menggunakan informasi catatan sejarah, data geofisika, dan
pemetaan geologi di masanya. Salah satu rekaman data vulkanik disimpan di
Global Volcanism Program, di Smithsonian Institution, Washington DC. Daftar
tersebut mencakup seluruh erupsi yang terjadi selama 10.000 tahun terakhir,
yang diklasifikasikan menggunakan indeks yang disebut Volcanic Explosivity
Index atau VEI. Indeks tersebut merupakan metode pengklasifikasian yang
paling banyak digunakan yang didasarkan pada magnitudo dan intensitas dari
erupsi gunung api.
Magnitudo didefinisikan sebagai total volume
atau massa material hasil erupsi. Sementara intensitas adalah ukuran tingkat
volume atau massa hasil erupsi. Tabel 10.3 menunjukkan sistem klasifikasi dari
VEI. Dan tabel 10.4 menunjukkan hasil pengklasifikasian beberapa erupsi dalam
sejarah dengan menggunakan sistem VEI.
Meskipun sistem VEI banyak digunakan secara
luas, tetapi sistem ini memiliki sejumlah kelemahan, salah satunya menyangkut
letusan eksplosif. Setiap letusan yang merupakan erupsi penghasil lava akan
dimasukkan dalam kelompok VEI bernilai rendah, meskipun letusan tersebut
memiliki tingkat erupsi yang tinggi dan menghasilkan volume lava yang besar.
Sistem lain yang lebih dapat diandalkan adalah dengan menggunakan perhitungan
dari magnitudo dan intensitas. Sistem tersebut menghitung nilai magnitudo
letusan dengan:
Magnitudo = log10 (Me)
– 7
Dengan Me adalah massa total hasil
erupsi (dalam kg). Dan, intensitas letusan didapat dari:
Intensitas = log10 (Mf) + 3
Dengan Mf adalah flux massa
(dalam kg/s). Sistem ini memiliki keuntungan yang memungkinkan adannya
perbandingan langsung antara letusan eksplosif dan letusan penghasil lava
(efusif). Dalam tabel 10.4, untuk erupsi yang jelas bersifat eksplosif, nilai
VEI hampir sama dengan nilai magnitudonya. Tapi untuk erupsi yang menghasilkan
lava, semisal letusan Mauna Loa (1950) dan Etna (1991 – 1993), ada perbedaan
cukup signifikan dari nilai VEI dan magnitudo.
11. Frekuensi erupsi
Setiap gunung berapi memiliki ciri frekuensi letusan yang
berbeda - beda
Ada yang berfrekuensi dengan cepat seperti gunung
stromboli yaitu setiap +12 menit
Ada yang berfrekuensi dengan
waktu yang lama seperti Mt St Helens dan Gunung Tambora
12. Bencana gunung api
Gunung berapi terdapat dalam
beberapa bentuk sepanjang masa hidupnya. Gunung berapi yang aktif mungkin
berubah menjadi separuh aktif, istirahat, sebelum akhirnya menjadi tidak aktif
atau mati. Bagaimanapun gunung berapi mampu istirahat dalam waktu 610 tahun
sebelum berubah menjadi aktif kembali. Oleh itu, sulit untuk menentukan keadaan
sebenarnya dari suatu gunung berapi itu, apakah gunung berapi itu berada dalam
keadaan istirahat atau telah mati.
Letusan gunung berapi terjadi
apabila magma naik melintasi kerak bumi dan muncul di atas permukaan. Apabila
gunung berapi meletus, magma yang terkandung di dalam kamar magmar di bawah gunung
berapi meletus keluar sebagai lahar atau
lava. Selain daripada aliran lava, kehancuran oleh gunung berapi disebabkan
melalui berbagai cara seperti berikut:
- Aliran lava.
- Letusan gunung berapi.
- Aliran lumpur.
- Abu.
- Kebakaran hutan.
- Gas beracun.
- Gelombang tsunami.
- Gempa bumi.
13. Mitigasi bencana gunung api
Mitigasi bencana letusan gunungapi
adalah “proses pencegahan bencana letusan gunungapi atau pengurangan dampak
bahaya letusan gunungapi” untuk meminimalkan:
- Jatuhnya korban jiwa
- Kerugian harta benda
- Rusaknya lingkungan dan Terganggunya roda perekonomian masyarakat.
Mitigasi
Bencana Gunungapi
Sebelum
Terjadi Bencana
- Dilakukan pemantauan gunungapi
- Penyediaan peta kawasan rawan bencana gunungapi, peta zona risiko bahaya gunung api
- Pemantapan protap tingkat kegiatan gunungapi
- Pembimbingan dan informasi gunungapi
- Penerbitan peta geologi gunungapi
- Penyelidikan geologi, geofisika dan geokimia
- Peningkatan sumberdaya manusia dan pendukungnya
Saat
Terjadi Bencana
- Mengirimkan tim tanggap darurat
- Meningkatkan pengamatan
- Melaporkan tingkat kegiatan sesuai alur
- Memberikan rekomendasi kepada pemda sesuai protap
Sesudah
Terjadi Bencana
- Menurunkan tingkat kegiatan gunungapi sesuai protap
- Menginventarisir data letusan, termasuk sebaran dan volume bahan letusan
- Mengidentifikasi daerah yang terancam bahaya sekunder
- Memberikan saran teknis penanggulangan bahaya sekunder
Pengurangan
Resiko Bencana
Melakukan identifikasi, kajian
dan pemantauan resiko bencana dan memperkuat sistem peringatan dini
Menggunakan pengetahuan,
inovasi dan pendidikan untuk membangun suatu budaya aman dan ketahanan terhadap
bencana di semua tingkatan
Memperkuat kesiapsiagaan
terhadap bencana untuk menjamin pelaksanaan tanggap darurat yang efektif
Sosialisasi
dan Koordinasi
Sosialisasi bertujuan untuk
meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat yang tinggal disekitar
gunungapi tentang potensi gunungapi, baik yang negatif (bahaya), maupun yang
positif (sumberdaya).
Koordinasi dilakukan dengan
pemerintah daerah dan instansi terkait guna meningkatkan efektivitas dalam
penanggulangan bencana erupsi gunungapi.
Penataan
Ruang Berbasis Kebencanaan
Upaya pengurangan risiko bencana
gempabumi adalah dengan mengurangai elemen kerentanan, salah satunya adalah
dengan cara penataan ruang yang berlandaskan kepada ainaliss kebencanaan
gunungapi.
Berikut ini adalah upaya yang
dilakukan dalam rangka penanggulangan bencana geologi yang disebabkan oelh erupsi
gunung api yaitu:
- Melakukan pengamatan dan pemantauan terhadap gunung api aktif.
- Dengan melakukan pengamatan dan pemantauan yang terus menerus, maka diharapkan dapat dipelajari tingkah laku dan aktifitas semua gunung api aktif yang ada sehingga usaha perkiraan erupsi dan bahaya gunung api akan tepat dan cepat. Penyampaian informasi dalam rangka pengamanan penduduk dalam kawasan rawan bencana dapat dilakukan tepat waktu sehingga korban bisa dihindari.
- Melakukan pemetaan kawasan rawan bencana gunung apai
- Untuk mengetahui dan menentukan kawasan rawan bencana gunung api, tempat-tempat yang aman jika terjadi letusan, tempat pengungsian, alur pengungsian. Sehingga pada saat terjadi peningkatan aktifitas/ letusan, kita sudah siap dengna peta operasional lapangan.
- Mengosongkan kawasan rawan bencana
- Daerah atau kawasan yang termasuk kedalam kawasan rawan bencana harus dikosongkan dan dilarang untuk hunian tetap, karena daerah ini sering dilanda oleh produk letusan gunung api (lava, awan panas, jatuhan piroklastik)
- Melakukan usaha preventif
- Upaya untuk mengurangi bahaya akibat aliran lahar, yaitu dengan cara membuat tanggul penangkis, tanggul-tanggul untuk mengurangi kecepatan lahar, serta mengurangi volume air di kawah (Kelud , Galunggung)
Tahap kesiap siagaan merupakan
tindakan-tindakan yang mmungkinkan pemerintah, masyarakat maupin perorangan
mampu mengantisipasi segera mungkin dan seefektif mungkin terhadap situasi
kejadian bencana misalnya:
1)
Menyiapkan peralatan penanggulangan bencana untuk digunakan sewaktu-waktu.
2)
Pelaksanaan efakuasi atau pengungsian.
3)
Menyiapkan sistem peringatan dini (komunikasi darurat).
4)
Melakukan penyuluhan serta memberi informasi tentang kebencanaan pada
masyarakat.
5)
Melakukan pelatihan penanggulangan bencana
14. Manfaat gunung api
Adakah manfaat yang dapat kita ambil
dari gunung berapi?. Di balik sekian banyak kerugian yang dapat ditimbulkan
oleh gunung berapi ternyata juga terdapat berbagai manfaat yang dapat kiat
peroleh. Baik saat gunung berapi tersebut belum meletus, maupun saat gunung
berapi tersbut telah meletus. Apa saja manfaatnya?. Berikut ini adalah
manfaat-manfaat dari gunung berapi.
- Sebagai Obyek Wisata
Gunung berapi dapat dijadikan
sebagai obyek wisata yang cukup mampu memikat hati para wisatawan, baik
wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Gunung berapi akan menyuguhkan
pemandangan yang indah dengan kawahnya, sensasi bau belerang alami, dan masih
banyak hal lain yang dapat ditemukan dari gunung berapi yang tidak ditemukan di
tempat wisata lainnya.
- Menyuburkan Tanah
Aktifitas vulkanisme dan abu
vulkanik mampu membuat tanah sekitar gunung berapi akan lebih subur. Sehingga
pasca terjadinya letusan gunung berapi maka lahan sekitar gunung berapi akan
berubah menjadi lahan yang lebih subur.
- Sebagai Lahan Tambang Baru
Pasca terjadinya letusan gunung
berapi maka sekitaran gunung berapi akan dapat menjadi lahan tambang. Hal ini
karena material yang keluar dari letusan gunung berapi. Material yang ada
biasanya berupa bebatuan dan juga pasir yang berasal dari letusan gunung
berapi.
- Sumber Air Panas Yang Bermanfaat
Sumber air panas atau yang biasa
disebut geyser menjadi daya tarik tersendiri. Pasalnya geyser muncul secara
berkala setelah terjadi letusan gunung berapi, dan sumber air panas atau geyser
ini dipercaya memiliki manfaat yang baik bagi kulit.
- Pendirian Pembangkit Listrik
Wilayah gunung berapi dapat
dimanfaatkan sebagai tempat pendirian pembangkit listrik dengan memanfaatkan
energi panas yang timbul dari gunung berapi.
- Potensial Hujan Orografis
Pada wilayah-wilayah gunung berapi
memiliki potensi yang baik akan terjadinya hujan orografis. Hal ini sisebabkan
karena gunung adalah penangkal hujan terbaik.
- Sebagai Penangkap Hujan
Dengan tanahnya yang subur, akan
berakibat pada kesuburan yang tanaman yang tumbuh di sana sehingga akan
menghadirkan hutan yang lebat. Hal tersebut menunjukkan bahwa gunung berapi
adalah salah satu tempat reservoir air yang sangat baik. Saat musim kemarau,
maka hutan yang lebat akan berguna dengan menghasilkan mata air. Sedangkan saat
musim penghujan maka hutan lebat yang ada juga bermanfaat sebagai penangkap
hujan yang cukup baik, menyerap air serta menahan terjadinya longsor.











Komentar
Posting Komentar